Thursday, December 12, 2013

FILSAFAT 2



Makalah filsafat ilmu tentang
‘Telaah konstruksi teori dalam substansi filsafat ilmu’



A. Latar Belakang
        
 Pada dasarnya suatu telaah konstruksi teori dirumuskan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena yang ada. Bangunan suatu teori yang merupakan abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi  akan mengalami perkembangan, dan perkembangan itu terjadi apabila teori sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. Jika suatu teori ingin diakui sebagai ilmiah, teori ini haruslah cocok (compatible) dengan teori-teori lain yang telah diakui sebelumnya. Dan jika suatu teori memiliki kesimpulan prediktif yang berbeda dengan teori lainnya, salah satu di antara kedua teori tersebut salah.
       Penerimaan suatu teori di dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki kebenaran mutlak. Setiap teori selalu sudah dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian dan metode dari ilmuwan yang merumuskannya. Kemampuan suatu teori untuk memprediksi apa yang akan terjadi  merupakan kriteria  bagi validitas teori tersebut. Semakin prediksi dari teori tersebut dapat dibuktikan, semakin besar pula teori tersebut akan diterima di dalam komunitas ilmiah. Ketika suatu bentuk teori telah dianggap mapan di dalam komunitas ilmiah, maka hampir semua ilmuwan dalam komunitas ilmiah tersebut menggunakan teori yang mapan itu didalam penelitian mereka. Teori yang mapan dan dominan itu disebut oleh Kuhn sebagai paradigma.
       B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas pemakalah mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut:
  1. Apa  pengertian dari konstruksi dan teori?
  2. Membahas apa saja yang ada di telaah  konstruksi  teori itu?
  3.  Fungsi apa saja yang ada di  telaah konstruksi teori?
C. Tujuan penulisan
Tujuannya seperti di jelaskan di makalah ini adalah:
1.      supaya mengerti apa pengertian kostruksi dan teori.
2.      supaya memahami lebih jelas lagi pembahasan apa saja yang ada di konstruksi teori.
3.      Agar mengetahui fungsi dari konstruksi teori.
      D. Sumber data
Data yang di ambil adalah dari beberapa buku buku filsafat ilmu yang memuat penjelasan dari telaah konstruksi teori,

                                                                BAB II
PEMBAHASAN
*Pengertian konstruksi*
      Konstruksi adalah suatu entitas yang keberadaan dan sifatnya tidak dapat secara langsung di deduksi secara empiris. Karena, hanya dapat dijelaskan atas dasar jaringan operasi terpadu. Untuk membuat lebih jelas definisi diatas,perhatikan perbedaan antara konsep ‘kursi’ dan konstruk ‘kecerdasan’. (dalam kebanyakan tulisan ilmiah,konsep,dan konstruk adalah istilah isomorfik). Dalam hal ini konsep ‘kecerdasan’ ini bukan kenyataan sebagaimana konsep ‘kursi’. Kursi dapat dijelaskan lebih mudah oleh pengamat (kursi adalah coklat; memiliki empat kaki,dll).konsep ‘kursi’ bisa dijelaskan yaitu seperangkat atribut minimal yang diperlukan untuk membedakan kursi dengan objek lain.
      Atribut ini dapat bersifat fisik (kursi memiliki empat kaki) atau fungsional (kursi adalah tempat duduk), atau mungkin sesuatu yang lain, tetapi karakteristik penting adalah bahwa satu set atribut tertentu yang disepakati oleh anggotakomunitas linguistik untuk menentukan konsep.
      Bandingkan ini sekarang dengan konstruk ‘kecerdasan’ sama seperti konsep ‘kursi’, konsepnini hanya dapat didefinisikan dengan menetapkan apa subset unik dari atribut ciri ‘kecerdasan’ dari proses psikologis lainnya. Dalam beberapa hal seringkali kita mengatakan bahwa individu x lebih cerdas daripada individu y, penilaian tersebut masih abstrak karena terangkum dalam perilaku. Tetapi bisa diukur berdasarkan kriteria tertentu.
      Untuk meringkas banyaknya perbedaan tentang definisi dari istilah-istilah diatas,nampaknya bahwa teori adalah istilah yang paling umum dan paling inklusif,dan lainnya adalah bagian dari teori atau dihasilkan dari teori tersebut. Sebuah teori terdiri dari konstruk dan menghasilkan hipotesis. Model seringkali dimaksudkan untuk menterjemahkan teori menjadi bentuk lain yang diambil dari teori tersebut berasal. Hukum dan prinsip seringkali digunakan sebagai dinding bangunan yang bahannya teori.
  
* Pengertian  Teori *
          Kata ‘teori” secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theorea, yang berarti melihat, theoros yang berarti pengamatan.
         Adapaun pengertian teori menurut terminologi memiliki beberapa pengertian seperti yang dikemukakan oleh ilmuwan sebagai berikut:
        Kerlinger mengemukakan bahwa teori adalah suatu kumpulan variabel yang saling berhubungan, definisi-definisi, proposisi-proposisi yang memberikan pandangan yang sistematis tentang fenomena dengan mempesifikasikan relasi-relasi yang ada di antara beragam variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena yang ada”.
         Cooper and Schindler (2003), mengemukakan bahwa, A theory is a set systematically interrelated concepts, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena (fact). Teori adalah seperangkat konsep, defininisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
    Dalam bidang Administrasi Hoy & Miskel (2001) mengemukakan defenisi bahwa teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.
      Teori menurut Sugiyono adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, defenisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala.
     Berdasarkan pengertian teori tersebut dapat kita mengemukakan bahwa teori memiliki komponen-komponen yang terdiri atas: Konsep, fakta, fenomena, defenisi, proposisi dan variabel.

 Telaah Konstruksi  Teori
         Telaah konstruksi teori (Bangunan teori) Adalah sekumpulan proporsi yang saling berkaitan secara logis untuk memberikan pengertian mengenai sejumlah fenomena. Atau bisa diartikan abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi. Konsep sebagai abstraksi dari banyak empiri yang telah ditemukan kesamaan umumnya dan kepilahannya dari yang lain atau abstraksi dengan cara menemukan sejumlah esensi pada suatu kasus, dan dilakukan berkelanjutan pada kasus-kasus lainnya, dapat dikonstruksikan lebih jauh menjadi proposisi atau pernyataan, dengan membuat kombinasi dari dua konsep atau lebih.
Bangunan-bangunan teori tersebut  mecakup pembahasan antara lain:
1. Teori Ilmu
       Teori ilmu memiliki dua kutub arti teori. Kutub pertama adalah teori sebagai hukum eksprimen muncul beragam, mulai dari hasil eksprimen tersebut meluas ke hasil observasi fisik seperti teori tentang panas bumi. Kutub kedua adalah hukum sebagai kalkulus formal dapat muncul beragam pula, mulai dari yang dekat dengan kutub pertama seperti teori sebagai eksplanasi phisik misalnya teori Galileo tentang peredaran planet pada porosnya, teori sinar memancar melengkung bila lewat medan gravitasi. Selanjutnya teori sebagai interpretasi terarah atas observasi seperti teori sosial statis dan sosial dinamis dari August Comte dan pada ujung kutub kedua adalah teori sebagai prediksi logik; dengan sifatnya berlaku umum dan diprediksikan berlaku kapan pun dahulu dan yang akan datang, seperti teori evolusi dari Darwin,         
       teori relativitas dari Einstein yang memnberikan penjelasan alternatif tentang sumber energi yang memungkinkan matahari menghasilkan energi begitu besar dalam waktu begitu lama.
2. Temuan Substantif Mendasar
    Temuan-temuan atas bukti empirik dapat dijadikan tesis substantif, dan diramu dengan konsep lain dapat dikonstruk menjadi teori substantif. Asumsi keberlakuan tesis substantif tersebut ada pada banyak kasus yang sama di tempat dan waktu berbeda.
       Temuan huruf baca hirogliph Mesir, huruf baca kanji Jepang dan Cina adalah symbol-simbol untuk benda-benda Huruf baca lebih maju tampil sebagai simbol-simbol ucapan. Angka-angka Rumawi dan Latin adalah simbol-simbol, seperti X adalah simbol dari 10, L =50, M = 100,  dan seterusnya. Huruf tulis yang kita gunakan adalah huruf Latin. Jika angka ilmu pengetahuan yang kita gunakan  adalah angka latin, bagaimana matematika dan ilmu eksakta lain akan dapat dikembangkan dengan huruf-huruf simbol X,L,M, dan lainnya. Angka arab yang kita gunakan dalam  berilmu pengetahuan sekarang ini bukan representasi simbol, melainkan representasi placed value. Sama-sama angka 5 dengan letak berbeda, berbeda nilainya. Contoh: 5.555.55. Itu merupakan temuan  teori substantif mendasar.
        Demikian pula persepsi ilmuwan tentang atom, berkembang. Dari partikel terkecil, ke ditemukannya unsur radioaktif pada atom, dan diketemukannya unsur-unsur electron yang berputar mengorbit pada proton yang mempunyai kekuatan magnetik. Kemudian pada tahun 1937 diketemukan neutron, semacam proton, tetapi tidak mempunyai kekuatan magnetik. Berat neutron beragam dan inilah yang menyebabkan atom satu beda beratnya dengan atom yang lain. Temuan teori atom ini merupakan temuan ilmiah substantif  mendasar.
3. Hukum-hukum Keteraturan
a. Hukum Keteraturan Alam
       Alam semesta ini memiliki keteraturan yang determinate. Ilmu pengetahuan alam biasa disebut hard science, karena segala proses alam yang berupa benda anorganik sampai organik dan hubungan satu dengan lainnya dapat dieksplanasikan dan diprediksikan relatif tepat. Kata relatif  tepat momot dua makna: pertama, bila teori yang kita gunakan untuk membuat eksplanasi atau prediksi sudah sangat lebih baik, dan kedua, bila variabel yang ikut berperan lebih terpantau.Menurut al-Kindi ketertiban alam ini, baik susunan, interaksi, relasi bagian dengan bagiannya, ketundukan suatu bagian pada bagian lainnya, dan kekukuhan strukturnya di atas landasan prinsip yang terbaik bagi proses penyatuan, perpisahan, dan muncul serta lenyapnya sesuatu dalam alam, mengindikasikan adanya pengaturan yang mantap dan kebijakan yang kukuh. Tentu ada Pengatur Yang Maha Bijaksana dibalik semua ini, yaitu Allah.
b. Hukum Keteraturan Hidup Manusia
        Hidup manusia itu memiliki keragaman sangat luas. Ada yang lebih suka kerja keras dan yang lain menyukai hidup santai, ada yang tampil ulet meski selalu gagal, yang lain mudah putus asa, ada yang berteguh pada prinsip dan sukses dalam hidup, yang lain berteguh pada prinsip, dan tergilas habis. Kehidupan manusia mengikuti sunnatullah, mengikuti hukum yang sifatnya indeterminate. Mampu membaca kapan harus teguh pada prinsip, kapan diam dan kapan berbicara dalam nada bagaimana, dia akan sukses beramar ma’ruf nahi mungkar. Manusia mempunyai kemampuan untuk memilih yang baik, dan menghindari yang tidak baik. Dataran baik tersebut dapat berada pada dataran kehidupan pragmatik sampai pada dataran moral human ataupun moral religious.
        Memilih kerja yang mempunyai prospek untuk menghidupi keluarga, merupakan kebebasan memilih manusia dengan konsekuensi ditempuhnya keteraturan sunnatullah; harus tekun bekerja dan berupaya berprestasi di dunia kerjanya. Untuk diterima kepemimpinannya, seorang pemimpin perlu berupaya menjadi shiddiq, amanah, dan maksum. Kedaan demikian berkenan  
       dengan pemikiran Ibnu Bajjah yang membagi perbuatan manusia kepada perbuatan manusiawi, yaitu perbuatan yang didorong oleh kehendak/kemauan yang dihasilkan oleh pertimbangan pemikiran, dan perbuatan hewani yaitu perbuatan instingtif sebagaimana terdapat pada hewan, muncul karena dorongan insting dan bukan dorongan pemikiran.
c. Hukum Keteraturan Rekayasa Teknologi
      Keteraturan alam yang determinate, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keteraturan substantif dan ketraturan esensial. Seperti Pohon mangga golek akan berbuah mangga golek. Ketika ilmuwan berupaya menemukan esensi rasa enak pada mangga, menemukan esensi buah banyak pada mangga, dan menemukan esensi pohon mangga yang tahan penyakit, ilmuwan berupaya membuat rekayasa agar dapat diciptakan pohon mangga baru manalagi yang enak buahnya, banyak buahnya, dan pohonnya tahan penyakit, di sini nampak bahwa ilmuwan mencoba menemukan keteraturan esensial pada benda organik. Produk teknologi merupakan produk kombinasi antara pemahaman ilmuwan tentang keteraturan esensial yang determinate dengan upaya rekayasa kreatif manusia mengikuti hukum keteraturan sunnatullah.


4. Konstruksi Teori Model Korespondensi
       Konstruksi berfikir korespondensi adalah bahwa kebenaran sesuatu dibuktikan dengan cara menemukan relasi relevan dengan sesuatu yang lain. Tampilan korespondensi tersebut beragam mulai dari korelasi, kausal, kontributif, sampai mutual. Konstruk berfikir statistik kuantitatif dan juga pendekatan positifistik menggunakan cara ini. (Menurut Bertand Russel suatu pernyataan benar jika materi pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan/cocok) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu. Misalnya, jika ada seseorang yang mengatakan “ Ibu kota republik Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu benar sebab pernyataan itu sesuai dengan fakta objektif.
Pada akhir abad XIX dan permulaan abad XX, terobosan-terobosan dramatik telah dilakukan dalam logika formal. Secara khusus jelas dihargai bahwa hal dapat ditarik kesimpulan, dapat dikonstruksi sebagai sebuah relasi formal yang sepenuhnya indefenden dari maknanya. Misalnya, orang dapat menyimpulkan kalimat r dari kalimat-kalimat s dan “jika s maka r” tanpa mengetahui apapun tentang apa yang diklaim (dinyatakan) kalimat-kalimat s dan r. Para penstudi dan ahli logika menyelidiki kemungkinan pengkonstruksian (pembentukan) bahasa-bahasa formal yang di dalamnya relasi-relasi logikal akan menjadi persis (terumus secara cermat). Dari aksioma-aksioma teori itu semua teorema secara murni formal akan mengikuti ( seperti r mengikuti dari s dan “jika s maka r”) sebab teori itu mengatakan kepada kita tentang dunia, ia memerlukan sebuah ‘interpretasi”: Kita harus diberi tahu apa yang menjadi makna dari term-termnya dan pernyatan-pernyataan pendiriannya. “Correspondence rule” (aturan kores pondensi) adalah pernyataan-pernyataan yang sekaligus dimaksudkan untuk menyediakan interpretasi itu dan untuk memungkinkan klaim-klaim dari teori-teori yang sekarang sudah diinterpretasi dapat diuji.
5. Konstruksi Teori Model Koherensi
        Konstruksi teori model koherensi merentang dari koheren dalam makna rasional sampai dalam makna moral. Konstruk koheren dalam makna rasional adalah kesesuaian sesuatu dengan skema rasional tertentu, termasuk juga kesesuaian sesuatu dengan kebenaran obyektif rasional.
        Aristoteles dalam teori koherensi memberikan standar kebenaran dengan cara deduktif, yaitu kebenaran yang didasarkan pada kriteria koherensi yang dapat diungkap bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap benar bahwa “semua manusia pasti mati” adalah pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si fulan adalah seorang manusia dan si Fulan pasti mati” adalah benar pula. Sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.
    Konstruksi berfikir koherensi kedua adalah yang dilandaskan kepada kebenaran moral dan nilai. Sesuatu dipandang sebagai benar bila sesuai dengan moral tertentu. Moral dalam maknanya yang luas menyangkut masalah: right or wrong, truth or false, justice or unfair, human or inhuman dan lainnya. Hal ini terkait dengan kehidupan budi yang terjelma dalam proses penilaian itu merupakan ciri manusia yang terpenting dalam kehidupan individu, masyarakat dan kebudayaan, sebagai makhluk yang berkelakuan.
6. Konstruksi Teori Model Pragmatis
         Konstruksi teori model Prgmatis berupaya mengkonstruk teorinya dari kosep-konsep, pernyataan-pernyataan yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak; Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau implikasinya mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kaum pragmatis berpaling pada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang alam ini yang dianggap fungsional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alamiah. Agama bisa dianggap benar karena memberikan ketenangan pada jiwa dan ketertiban dalam masyarakat. Para ilmuan yang menganut azas ini tetap menggunakan suatu teori tertentu selama teori itu mendatangkan manfaat.
7. Konstruksi Teori Iluminasi
       Teori Iluminasi menurut Mehdi Ha’iri Yazdi adalah pengetahuan yang semua hubungannya berada dalam kerangka dirinya sendiri, sehingga seluruh anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar tanpa membutuhkan hubungan eksterior. Artinya hubungan mengetahui, dalam bentuk pengetahuan tersebut adalah hubungan swaobjek tanpa campur tangan koneksi dengan objek eksternal.
      Selanjutnya Iluminasi oleh Yazdi disebut sebagai ilmu hudhuri yaitu pengetahuan dengan kehadiran karena ia ditandai oleh keadaan neotic dan memiliki objek imanen yang menjadikannya pengetahuan swaobjek. Ilmu hudhuri tidak memiliki objek diluar dirinya, tetapi objek itu sendiri ada adalah objek subjektif yang ada pada dirinya. Oleh sebagian sufi, iluminasi itu adalah pengetahuan diri tentang diri yang berasal dari penyinaran dan anugerah Tuhan yang digambarkan dengan berbagai ungkapan dan keadaan. Ada yang menyebutkannya dengan terbukanya hijab antara dirinya dengan Tuhan, sehingga pengatahuan dan rahasianya dapat diketahui. Ada yang mengungkapkan dengan rasa cinta yang sangat dalam sehingga antara dia dan Tuhan tidak ada rahasia lagi. Pengetahuan Tuhan adalah pengetahuannya. Dan ada yang menyatakan dengan kesatuan kesadaran (ittihᾶd/hulûl).
*Terdapat 2 bentuk dasar dalam konstruksi teori (bagunan teori) antara lain;*
Metode deduktif,dan metode induktif
1.      Konstruksi teori deduktif
        Penekanan dalam jenis ini adalah terletak pada membangun sistem konstruk dan aturan relasional yang secara konseptual dan logis konsisten tapi verifikasi empiris yang terbuka untuk dipertanyakan. Penemu jenis teori bekerja dari atas ke bawah,membangun sebuah teori  yang tampaknya logis dengan basis apriori dan kemudian menguji kebenaran dari teori ini dengan melakukan percobaan yang ditentukan oleh teori.
         Contoh paling jelas seperti teori dalam psikologi adalah teori pembelajaran hipotetiko deduktif oleh hull. Dalam teori ini seperangkat postulat atau asumsi-asumsi dasar dirumuskan terlebih dahulu dengan memperhitungkan faktor pengetahuan tertentu,tetapi secara esensial hasil dari menebak informasi. Dari postulat-postulat ini,hipotesis (atau teorema) kemudian diuji dan salah satu teori yang terbukti benar dipertahankan. Ini adalahka rakteristik dari teori deduktif pada umumnya.
2.      Konstruksi teori induktif
         Pada jenis konstruksi teori ini, teori merupakan ringkasan pernyataan-pernyataan atau generalisasi dari fakta-fakta empiris. Para penganut teori ini bekerja bawah keatas, menyusun sistem (atau teori kecil) yang sudah diverifikasi dengan replikasi hasil penelitian tertentu, kemudian memikirkan sistem tingkat tinggi yang menggeneralisir seluruh teori miniature/kecil, dan akhirnya merumuskan teori yang dapat menjelaskan semua pernyataan dalam skema. Keuntungan dari pendekatan seperti itu adalah bahwa para penganut ini tidak pernah sangat jauh dari pernyataan yang ‘kebenaran’ nya diverifikasi dengan baik. Dengan cara ini ia cenderung untuk tersesat dalam menyusun dalil-dalil teoretesnya. Masalah dalam metode tersebut adalah menyebabkan proliferasi teori yang sangat rendah-tingkat,kebanyakannya tidak unik dan tumpang tindih dalam fungsinya. Serta tidak efisien. 

Praktek saat ini
       Seperti disebutkan sebelumnya,kedua metode konstruksi teori tersebut menunjukkan ekstrem. Beberapa penganut teori akanmenunjukkan preferensi untuk satu jenis dari yang lain, meskipun setiap penganut teori akan menggunakan strategi yang mengandungunsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut. Pertannyaannya adalah bukan apakah orang itu dikatakan lebih baik dari yang lain melainkan apakah seseorang lebih produktif atau efisien pada waktu tertentu dalam sejarah ilmu pengetahuan/sains.
         Pilihan antara metode deduktif dan metode induktif tergantung pada keyakinan dari penganut teori dan pengetahuan dalam bidang sains. Jika seseorang dapat merasakan terdapat beberapa fakta-fakta dalam psikologi dan bahwa ia memiliki pemahaman yang cukup baik tentang proses psikologi dasar,maka penggunaan metode deduktif dibenarkan. Jika, kurang memahami tentang nilai ilmiah dan data psikologis saat ini, menggunakan pendekatan induktif lebih baik.

Fungsi telaah konstruksi teori   
fungsi dari telaah konstruksi teori antara lain :
1.      Sebagai pedoman,bagan sistemanisasi,atau system acuan.
2.      Memberikan suatu skema atau rencana sementara mengenai medan yang semula   belum dipetakan.
3.      Menunjukkan atau menyarankan kearah-arah penyelidikan lebih lanjut.
4.      Sebagai pengembangan teori vs pengumpulan fakta.
5.      Untuk memberitahu para ilmuwan tempat untuk mencari jawaban atas pertanyaan.
6.      Dapat digunakan sebagai untuk memprediksi.
7.      Untuk memberi penjelasan peristiwa atau faktor-faktor yang tidak diketahui/dipahami.


                                                            BAB III
KESIMPULAN
     Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka pemakalah mengemukakan  kesimpulan –kesimpulan sebagai berikut:
      Telaah konstruksi teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang disusun secara sistematis untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Suatu teori akan mengalami perkembangan apabila teori tersebut sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah.
     Penerimaan suatu teori dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki kebenaran mutlak.Teori yang telah mapan dan digunakan oleh mayoritas ilmuwan dalam komunitas ilmiah dalam penelitian selanjutnya disebut sebagai paradigma.
         Paradigma dibangun oleh para ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya atas berbagai konsep, asumsi-asumsi teoritis umum dalam tatanan tertentu, menyederhanakan yang kompleks yang dapat diterima umum.

                                               DAFTAR  PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal,  Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997)
Drajat,  Amroeni, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006)
Komaruddin,  Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I, (Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002)
Muhadjir,  H. Noeng,  Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)
Soetrisno dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian, Ed.I.(Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007)
Wattimena, Reza  A.A , Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, ( Jakarta: PT. Grasindo, 2008)


0 comments:

Post a Comment