Thursday, December 12, 2013

FILSAFAT



KONFIRMASI
Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah
FILSAFAT ILMU



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Filsafat ilmu secara umum dapat dipahami dari dua sisi, yaitu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan. Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat yang membicarakan obyek khusus, yaitu ilmu pengetahuan yang memiliki sifat dan karakteristik tertentu hampir sama dengan filsafat pada umumnya. Sementara itu, filsafat ilmu sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan, ia merupakan kerangka dasar dari proses keilmuan itu sendiri.
Secara sederhana, filsafat dapat diartikan sebagai berfikir menurut tata tertib dengan bebas dan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar suatu persoalan, yakni berfikir yang mempunyai ciri-ciri khusus, seperti analitis, pemahaman deskriptif, evaluatif, interpretatif dan spekulatif. Sejalan dengan ini, Musa Asy’ari menyatakan bahwa filsafat adalah berfikir bebas, radikal, dan berada pada dataran makna. Bebas artinya tidak ada yang menghalang-halangi kerja pikiran. Radikal artinya berfikir sampai ke akar-akar masalah (mendalam) bahkan sampai melewati batas-batas fisik atau yang disebut metafisis. Sedang berfikir dalam tahap makna berarti menemukan makna terdalam dan suatu yang terkandung didalamnya. Makna tersebut bisa berupa nilai-nilai seperti kebenaran, keindahan maupun kebaikan.
Maka dari itu, filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek pembahasan, yaitu obyek material dan obyek formal.
a.       Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak maupun ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedang ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosuf membagi obyek material filsafat atas tiga bagian, yaitu: yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan.
b.      Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.

Dalam perspektif ini dapat dipahami bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya juga memiliki obyek pembahasan tersendiri, yang mana para ahli filsafat ilmu telah membaginya menjadi dua obyek, yakni obyek substantif dan obyek instrumentatif :
a.       Obyek Subtantif, terbagi menjadi dua :
1. Fakta (Kenyataan)
2. Kebenaran
b.      Obyek Instrumentatif, terbagi menjadi dua :
1.  Konfirmasi
2.  Logika Inferensi

Berdasarkan uraian diatas, maka disini kami akan membahas tentang poin pertama dari obyek instrumentatif dari filsafat ilmu, yakni mengenai konfirmasi, baik berupa definisi konfirmasi, aspek-aspek konfirmasi, maupun pembagian teori-teori dalam ruang lingkup konfirmasi.
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian Konfirmasi?
b.      Apa saja aspek-aspek dalam Konfirmasi?
c.       Apa saja teori-teori dalam Konfirmasi?

C.    Tujuan
Untuk mengetahui pengertian, aspek, dan teori Konfirmasi dalam Filsafat Ilmu.
 
BAB II
PEMBAHASAN


A.    Konfirmasi
2.1       Definisi Konfirmasi
           
Konfirmasi berasal dari bahasa Inggris “Confirmation” yang berarti penegasan, pengesahan. Konfirmasi apabila dikaitkan dengan ilmu, maka fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi, dan menghasilkan. Menjelaskan ataupun memprediksi, tersebut lebih bersifat interpretasi untuk memberikan makna tentang sesuatu.
            Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axsioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif, deduktif, ataupun reflektif[1].

2.2       Aspek Kuantitatif dan Kualitatif Konfirmasi
           
Dasar untuk memastikan kebenaran penjelasan atau kebenaran prediksi, sebagian ahli menggunakan aspek kuantitatif, dan sebagian lain menggunakan aspek kualitatif. Derajat konfirmasi kuantitafif dibangun berdasar hipotesis mengenai obyek yang diukur dan seluas hipotesisnya. Derajat konfirmasinya bersifat probabilitas; probabilitas dari hasil analisis frekuensi. Derajat konfirmasi kuantitatif menjadi masalah pada keluasan generalisasi. Sejauh mana generalisasi dapat diterapkan. Konfirmasi kuantitatif juga menimbulkan masalah pada derajat signifikansinya. Batas koefisien yang dianggap signifikan menjadi masalah, karena dalam terapan dijumpai batas signifikansi statistik dan batas signifikansi arbriter, misal dalam analisis data psikologik, data sosiologis yang mentolerir koefisien lebih rendah dari tabel signifikansi statistik, karena obyek telaahnya adalah manusia.

Untuk membangun konfirmasi kualitatif dan upaya melepaskandari yang kuantitatif nampaknya memang belum dapat dilakukan sepenuhnya. Hempel menggunakan analisis sintaktikal untuk membuat konfirmasi kebenaran. Carnap menggunakan dua model bahasa, yaitu: bahasa terjemahan dan bahasa interpretasi. Para positivist logis menuntut agar ilmu empirik mereduksi empiri menjadi bahasa penuh arti yang dapat diverifikasi. Carnap mengganti konsep verifikasi dengan konfirmasi. Para phenomenolog menuntut agar ilmu empiri menjadi esensi untuk ditampilkan sebagai bahasa penuh makna yang sentaktikal atau semantikal. Popper menyatakan bahwa untuk membuat konfirmasi tidak dapat membuat dengan verifikasi lewat pengujian hipotesis, dan menawarkan uji falsifikasi untuk mengkonfirmasikan teori.

2.3       Teori Konfirmasi

                        Teori kepastian atau Confirmation Theory berupaya mencari deskripsi hubungan normatif antara hipotesis dengan evidensi, hubungan tersebut berupaya mengukur atau mengindikasikan apakah dan bagaimana suatu evidensi menjamin percaya kita pada hipotesis. Sampai sekarang setidaknya ada tiga teori konfirmasi, yaitu: Decision Theory, Estimation Theory, dan Reliability Analisys.

a.      Decision Theory

Menerapkan kepastian berdasar keputusan “apakah hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual”. Kriteria “manfaat aktual” memang bersifat subyektif.

b.      Estimation Theory

Kepastian dengan memberi peluang benar-salah denngan menggunakan konsep probabilitas. Konsep ini dominan dalam analisis statistik. Hempel menggunakan konsep probabilitas dengan mendasarkan pada hubungan logis antara proposisi (yang menyatakan tentag evidensi) dengan hipotesis. Sedangkan Rudolp Carnap mendasarkan pada hubungan sintaktikal antara evidensi dengan hipotesis.

c.       Reliability Analysis

Menetapkan kepastian dengan mencermati stbilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hipotesis.
Kepastian dapat pula dikonstruk atas pemikiran orang tentang choic of action. Dalam filsafat kita kenal determinisme dan indeterminisme. Para ahli mempertanyakan: apakah alam semesta ini deterministik atau memiliki peluang berkembang yang indetrminate. Banyak ahli menganut yang pertama, tetai lebih banya yang menganut yang kedua[2].
                                                 
BAB III
PENUTUP
       A.    Kesimpulan
Obyek dalam Filsafat Ilmu terdiri dari obyek Subtantif dan instrumentatif. Konfirmasi termasuk dalam obyek Instrumentatif. Pengertian Konfirmasi yakni berasal dari bahasa Inggris “Confirmation” yang berarti penegasan, pengesahan.
Aspek dalam Konfirmasi terdiri dari:
a.         Aspek Kuantitatif
Derajat konfirmasi kuantitafif dibangun berdasar hipotesis mengenai obyek yang diukur dan seluas hipotesisnya.
b.        Aspek Kualitatif

d.      Decision Theory

Menerapkan kepastian berdasar keputusan “apakah hubungan antara hipotesis dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual”. Kriteria “manfaat aktual” memang bersifat subyektif.

e.       Estimation Theory

Kepastian dengan memberi peluang benar-salah denngan menggunakan konsep probabilitas. Konsep ini dominan dalam analisis statistik. Hempel menggunakan konsep probabilitas dengan mendasarkan pada hubungan logis antara proposisi (yang menyatakan tentag evidensi) dengan hipotesis. Sedangkan Rudolp Carnap mendasarkan pada hubungan sintaktikal antara evidensi dengan hipotesis.

f.       Reliability Analysis

Menetapkan kepastian dengan mencermati stbilitas evidensi (yang mungkin berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hipotesis.


DAFTAR PUSTAKA
Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu, 1998, Yogyakarta: Rakesarasin
http://wiwidmanga.blogspot.com/2012/10/substansi-filsafat-ilmu.html


[1] http://wiwidmanga.blogspot.com/2012/10/substansi-filsafat-ilmu.html
[2] Filsafat Ilmu Muhadjir Noeng halaman 20-22

0 comments:

Post a Comment