Friday, December 13, 2013
Thursday, December 12, 2013
FILSAFAT 2
Makalah filsafat ilmu
tentang
‘Telaah konstruksi
teori dalam substansi filsafat ilmu’
Pada dasarnya suatu telaah konstruksi teori dirumuskan untuk menjelaskan dan
meramalkan fenomena yang ada. Bangunan suatu teori
yang
merupakan abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam
definisi-definisi akan mengalami perkembangan, dan perkembangan itu
terjadi apabila teori sudah tidak
relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. Jika suatu teori
ingin diakui sebagai ilmiah, teori ini haruslah cocok (compatible) dengan
teori-teori lain yang telah diakui sebelumnya. Dan jika suatu teori memiliki
kesimpulan prediktif yang berbeda dengan teori lainnya, salah satu di antara
kedua teori tersebut salah.
Penerimaan suatu teori di dalam
komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki kebenaran mutlak.
Setiap teori selalu sudah dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian dan metode
dari ilmuwan yang merumuskannya. Kemampuan suatu teori untuk memprediksi apa
yang akan terjadi merupakan kriteria bagi validitas teori tersebut.
Semakin prediksi dari teori tersebut dapat dibuktikan, semakin besar pula teori
tersebut akan diterima di dalam komunitas ilmiah. Ketika suatu
bentuk teori telah dianggap mapan di dalam komunitas ilmiah, maka hampir semua
ilmuwan dalam komunitas ilmiah tersebut menggunakan teori yang mapan itu
didalam penelitian mereka. Teori
yang mapan dan dominan itu disebut oleh Kuhn sebagai paradigma.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut di atas pemakalah mengemukakan beberapa permasalahan
sebagai berikut:
- Apa pengertian dari konstruksi dan teori?
- Membahas apa saja yang ada di telaah konstruksi teori itu?
- Fungsi apa saja yang ada di telaah konstruksi teori?
C. Tujuan
penulisan
Tujuannya seperti
di jelaskan di makalah ini adalah:
1.
supaya mengerti
apa pengertian kostruksi dan teori.
2.
supaya memahami
lebih jelas lagi pembahasan apa saja yang ada di konstruksi teori.
3.
Agar mengetahui
fungsi dari konstruksi teori.
D. Sumber
data
Data yang di ambil adalah dari beberapa buku buku
filsafat ilmu yang memuat penjelasan dari telaah konstruksi teori,
BAB II
PEMBAHASAN
*Pengertian konstruksi*
Konstruksi adalah
suatu entitas yang keberadaan dan sifatnya tidak dapat secara langsung di
deduksi secara empiris. Karena, hanya dapat dijelaskan atas dasar jaringan
operasi terpadu. Untuk membuat lebih jelas definisi diatas,perhatikan perbedaan
antara konsep ‘kursi’ dan konstruk ‘kecerdasan’. (dalam kebanyakan tulisan
ilmiah,konsep,dan konstruk adalah istilah isomorfik). Dalam hal ini konsep
‘kecerdasan’ ini bukan kenyataan sebagaimana konsep ‘kursi’. Kursi
dapat dijelaskan lebih mudah oleh pengamat (kursi adalah coklat; memiliki empat
kaki,dll).konsep ‘kursi’ bisa dijelaskan yaitu seperangkat atribut minimal yang
diperlukan untuk membedakan kursi dengan objek lain.
Atribut ini
dapat bersifat fisik (kursi memiliki empat kaki) atau fungsional (kursi adalah
tempat duduk), atau mungkin sesuatu yang lain, tetapi karakteristik penting
adalah bahwa satu set atribut tertentu yang disepakati oleh anggotakomunitas
linguistik untuk menentukan konsep.
Bandingkan
ini sekarang dengan konstruk ‘kecerdasan’ sama seperti konsep ‘kursi’,
konsepnini hanya dapat didefinisikan dengan menetapkan apa subset unik dari
atribut ciri ‘kecerdasan’ dari proses psikologis lainnya. Dalam beberapa hal
seringkali kita mengatakan bahwa individu x lebih cerdas daripada individu y,
penilaian tersebut masih abstrak karena terangkum dalam perilaku. Tetapi bisa
diukur berdasarkan kriteria tertentu.
Untuk
meringkas banyaknya perbedaan tentang definisi dari istilah-istilah
diatas,nampaknya bahwa teori adalah istilah yang paling umum dan paling
inklusif,dan lainnya adalah bagian dari teori atau dihasilkan dari teori
tersebut. Sebuah teori terdiri dari konstruk dan menghasilkan hipotesis. Model
seringkali dimaksudkan untuk menterjemahkan teori menjadi bentuk lain yang
diambil dari teori tersebut berasal. Hukum dan prinsip seringkali digunakan
sebagai dinding bangunan yang bahannya teori.
* Pengertian Teori *
Kata
‘teori” secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theorea, yang berarti
melihat, theoros yang berarti
pengamatan.
Adapaun pengertian teori menurut
terminologi memiliki beberapa pengertian seperti yang dikemukakan oleh ilmuwan
sebagai berikut:
Kerlinger mengemukakan bahwa teori
adalah suatu kumpulan variabel yang saling berhubungan, definisi-definisi,
proposisi-proposisi yang memberikan pandangan yang sistematis tentang fenomena
dengan mempesifikasikan relasi-relasi yang ada di antara beragam variabel,
dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena yang ada”.
Cooper and Schindler (2003),
mengemukakan bahwa, A theory is a set systematically interrelated concepts,
definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena
(fact). Teori adalah seperangkat konsep, defininisi dan proposisi yang
tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan
meramalkan fenomena.
Dalam bidang Administrasi Hoy &
Miskel (2001) mengemukakan defenisi bahwa teori adalah seperangkat konsep,
asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan
perilaku dalam berbagai organisasi.
Teori menurut Sugiyono adalah alur
logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, defenisi, dan
proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga
fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan
pengendalian (control) suatu gejala.
Berdasarkan pengertian teori tersebut
dapat kita mengemukakan bahwa teori memiliki komponen-komponen yang terdiri
atas: Konsep, fakta, fenomena, defenisi, proposisi dan variabel.
Telaah Konstruksi Teori
Telaah konstruksi
teori (Bangunan teori) Adalah sekumpulan proporsi yang saling berkaitan secara
logis untuk memberikan pengertian mengenai sejumlah fenomena. Atau bisa
diartikan abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam
definisi-definisi. Konsep sebagai abstraksi dari banyak empiri yang telah
ditemukan kesamaan umumnya dan kepilahannya dari yang lain atau abstraksi
dengan cara menemukan sejumlah esensi pada suatu kasus, dan dilakukan
berkelanjutan pada kasus-kasus lainnya, dapat dikonstruksikan lebih jauh
menjadi proposisi atau pernyataan, dengan membuat kombinasi dari dua konsep
atau lebih.
Bangunan-bangunan
teori tersebut mecakup pembahasan
antara lain:
1.
Teori Ilmu
Teori ilmu memiliki dua kutub arti
teori. Kutub pertama adalah teori sebagai hukum eksprimen muncul beragam, mulai
dari hasil eksprimen tersebut meluas ke hasil observasi fisik seperti teori tentang panas bumi.
Kutub kedua adalah hukum sebagai kalkulus formal dapat muncul beragam pula,
mulai dari yang dekat dengan kutub pertama seperti teori sebagai eksplanasi
phisik misalnya teori Galileo tentang peredaran planet pada porosnya, teori
sinar memancar melengkung bila lewat medan gravitasi. Selanjutnya teori sebagai
interpretasi terarah atas observasi seperti teori sosial statis dan sosial
dinamis dari August Comte dan pada ujung kutub kedua adalah teori sebagai
prediksi logik; dengan sifatnya berlaku umum dan diprediksikan berlaku kapan
pun dahulu dan yang akan datang, seperti teori evolusi dari Darwin,
teori relativitas dari Einstein yang
memnberikan penjelasan alternatif tentang sumber energi yang memungkinkan
matahari menghasilkan energi begitu besar dalam waktu begitu lama.
2.
Temuan Substantif Mendasar
Temuan-temuan atas bukti empirik dapat
dijadikan tesis substantif, dan diramu dengan konsep lain dapat dikonstruk
menjadi teori substantif. Asumsi keberlakuan tesis substantif tersebut ada pada
banyak kasus yang sama di tempat dan waktu berbeda.
Temuan huruf
baca hirogliph Mesir, huruf baca kanji Jepang dan Cina adalah symbol-simbol
untuk benda-benda Huruf baca lebih maju tampil sebagai simbol-simbol ucapan. Angka-angka Rumawi dan Latin adalah
simbol-simbol, seperti X adalah simbol dari 10, L =50, M = 100, dan
seterusnya. Huruf tulis yang kita gunakan adalah huruf Latin. Jika angka ilmu
pengetahuan yang kita gunakan adalah angka latin, bagaimana matematika
dan ilmu eksakta lain akan dapat dikembangkan dengan huruf-huruf simbol X,L,M,
dan lainnya. Angka arab yang kita gunakan dalam berilmu pengetahuan
sekarang ini bukan representasi simbol, melainkan representasi placed value.
Sama-sama angka 5 dengan letak berbeda, berbeda nilainya. Contoh: 5.555.55. Itu
merupakan temuan teori substantif mendasar.
Demikian pula persepsi ilmuwan tentang
atom, berkembang. Dari partikel terkecil, ke ditemukannya unsur radioaktif pada
atom, dan diketemukannya unsur-unsur electron yang berputar mengorbit pada
proton yang mempunyai kekuatan magnetik. Kemudian pada tahun 1937 diketemukan
neutron, semacam proton, tetapi tidak mempunyai kekuatan magnetik. Berat
neutron beragam dan inilah yang menyebabkan atom satu beda beratnya dengan atom
yang lain. Temuan teori atom ini merupakan temuan ilmiah substantif
mendasar.
3.
Hukum-hukum Keteraturan
a.
Hukum Keteraturan Alam
Alam semesta ini memiliki keteraturan
yang determinate. Ilmu pengetahuan alam biasa disebut hard science,
karena segala proses alam yang berupa benda anorganik sampai organik dan
hubungan satu dengan lainnya dapat dieksplanasikan dan diprediksikan relatif
tepat. Kata relatif tepat momot dua makna: pertama, bila teori yang kita
gunakan untuk membuat eksplanasi atau prediksi sudah sangat lebih baik, dan
kedua, bila variabel yang ikut berperan lebih terpantau.Menurut al-Kindi ketertiban alam ini,
baik susunan, interaksi, relasi bagian dengan bagiannya, ketundukan suatu
bagian pada bagian lainnya, dan kekukuhan strukturnya di atas landasan prinsip
yang terbaik bagi proses penyatuan, perpisahan, dan muncul serta lenyapnya
sesuatu dalam alam, mengindikasikan adanya pengaturan yang mantap dan kebijakan
yang kukuh. Tentu ada Pengatur Yang Maha Bijaksana dibalik semua ini, yaitu
Allah.
b.
Hukum Keteraturan Hidup Manusia
Hidup manusia itu memiliki keragaman
sangat luas. Ada yang lebih suka kerja keras dan yang lain menyukai hidup
santai, ada yang tampil ulet meski selalu gagal, yang lain mudah putus asa, ada
yang berteguh pada prinsip dan sukses dalam hidup, yang lain berteguh pada
prinsip, dan tergilas habis. Kehidupan manusia mengikuti sunnatullah, mengikuti
hukum yang sifatnya indeterminate. Mampu membaca kapan harus teguh pada
prinsip, kapan diam dan kapan berbicara dalam nada bagaimana, dia akan sukses
beramar ma’ruf nahi mungkar. Manusia mempunyai kemampuan untuk memilih yang
baik, dan menghindari yang tidak baik. Dataran baik tersebut dapat berada pada
dataran kehidupan pragmatik sampai pada dataran moral human ataupun
moral religious.
Memilih
kerja yang mempunyai prospek untuk menghidupi keluarga, merupakan kebebasan
memilih manusia dengan konsekuensi ditempuhnya keteraturan sunnatullah; harus
tekun bekerja dan berupaya berprestasi di dunia kerjanya. Untuk diterima kepemimpinannya, seorang
pemimpin perlu berupaya menjadi shiddiq, amanah, dan maksum. Kedaan demikian
berkenan
dengan
pemikiran Ibnu Bajjah yang membagi perbuatan manusia kepada perbuatan
manusiawi, yaitu perbuatan yang didorong oleh kehendak/kemauan yang dihasilkan
oleh pertimbangan pemikiran, dan perbuatan hewani yaitu perbuatan instingtif
sebagaimana terdapat pada hewan, muncul karena dorongan insting dan bukan
dorongan pemikiran.
c.
Hukum Keteraturan Rekayasa Teknologi
Keteraturan alam yang determinate,
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keteraturan substantif dan ketraturan
esensial. Seperti Pohon mangga golek akan berbuah mangga golek. Ketika ilmuwan
berupaya menemukan esensi rasa enak pada mangga, menemukan esensi buah banyak
pada mangga, dan menemukan esensi pohon mangga yang tahan penyakit, ilmuwan
berupaya membuat rekayasa agar dapat diciptakan pohon mangga baru manalagi yang
enak buahnya, banyak buahnya, dan pohonnya tahan penyakit, di sini nampak bahwa
ilmuwan mencoba menemukan keteraturan esensial pada benda organik. Produk
teknologi merupakan produk kombinasi antara pemahaman ilmuwan tentang
keteraturan esensial yang determinate dengan upaya rekayasa kreatif
manusia mengikuti hukum keteraturan sunnatullah.
4.
Konstruksi
Teori Model Korespondensi
Konstruksi berfikir korespondensi adalah bahwa
kebenaran sesuatu dibuktikan dengan cara menemukan relasi relevan dengan
sesuatu yang lain. Tampilan korespondensi tersebut beragam mulai dari korelasi,
kausal, kontributif, sampai mutual. Konstruk berfikir statistik kuantitatif dan
juga pendekatan positifistik menggunakan cara ini. (Menurut Bertand
Russel suatu pernyataan benar jika materi pengetahuan yang dikandung oleh
pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan/cocok) dengan obyek yang dituju
oleh pernyataan itu. Misalnya, jika ada seseorang yang mengatakan “ Ibu kota
republik Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu benar sebab pernyataan
itu sesuai dengan fakta objektif.
Pada
akhir abad XIX dan permulaan abad XX, terobosan-terobosan dramatik telah
dilakukan dalam logika formal. Secara khusus jelas dihargai bahwa hal dapat
ditarik kesimpulan, dapat dikonstruksi sebagai sebuah relasi formal yang
sepenuhnya indefenden dari maknanya. Misalnya, orang dapat menyimpulkan kalimat
r dari kalimat-kalimat s dan “jika s maka r” tanpa mengetahui apapun tentang
apa yang diklaim (dinyatakan) kalimat-kalimat s dan r. Para penstudi dan ahli
logika menyelidiki kemungkinan pengkonstruksian (pembentukan) bahasa-bahasa
formal yang di dalamnya relasi-relasi logikal akan menjadi persis (terumus
secara cermat). Dari aksioma-aksioma teori itu semua teorema secara murni
formal akan mengikuti ( seperti r mengikuti dari s dan “jika s maka r”) sebab
teori itu mengatakan kepada kita tentang dunia, ia memerlukan sebuah
‘interpretasi”: Kita harus diberi tahu apa yang menjadi makna dari term-termnya
dan pernyatan-pernyataan pendiriannya. “Correspondence rule” (aturan kores
pondensi) adalah pernyataan-pernyataan yang sekaligus dimaksudkan untuk menyediakan
interpretasi itu dan untuk memungkinkan klaim-klaim dari teori-teori yang
sekarang sudah diinterpretasi dapat diuji.
5.
Konstruksi
Teori Model Koherensi
Konstruksi teori model koherensi merentang dari
koheren dalam makna rasional sampai dalam makna moral. Konstruk koheren dalam
makna rasional adalah kesesuaian sesuatu dengan skema rasional tertentu,
termasuk juga kesesuaian sesuatu dengan kebenaran obyektif rasional.
Aristoteles
dalam teori koherensi memberikan standar kebenaran dengan cara deduktif, yaitu
kebenaran yang didasarkan pada kriteria koherensi yang dapat diungkap bahwa
berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu
bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap
benar. Bila kita menganggap
benar bahwa “semua manusia pasti mati” adalah pernyataan yang benar, maka
pernyataan bahwa “si fulan adalah seorang manusia dan si Fulan pasti mati” adalah
benar pula. Sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang
pertama.
Konstruksi berfikir koherensi kedua adalah yang
dilandaskan kepada kebenaran moral dan nilai. Sesuatu dipandang sebagai benar
bila sesuai dengan moral tertentu. Moral dalam maknanya yang luas menyangkut
masalah: right or wrong, truth or false, justice or unfair, human or inhuman
dan lainnya. Hal ini terkait dengan kehidupan budi yang terjelma dalam proses
penilaian itu merupakan ciri manusia yang terpenting dalam kehidupan individu,
masyarakat dan kebudayaan, sebagai makhluk yang berkelakuan.
6.
Konstruksi
Teori Model Pragmatis
Konstruksi
teori model Prgmatis berupaya mengkonstruk teorinya dari kosep-konsep,
pernyataan-pernyataan yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau
tidak. Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan
tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak; Artinya suatu
pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau implikasinya mempunyai
kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kaum
pragmatis berpaling pada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari pengetahuan
tentang alam ini yang dianggap fungsional dan berguna dalam menafsirkan
gejala-gejala alamiah. Agama bisa dianggap benar karena memberikan ketenangan
pada jiwa dan ketertiban dalam masyarakat. Para ilmuan yang menganut azas ini
tetap menggunakan suatu teori tertentu selama teori itu mendatangkan manfaat.
7. Konstruksi Teori Iluminasi
Teori
Iluminasi menurut Mehdi Ha’iri Yazdi adalah pengetahuan yang semua hubungannya
berada dalam kerangka dirinya sendiri, sehingga seluruh anatomi gagasan
tersebut bisa dipandang benar tanpa membutuhkan hubungan eksterior. Artinya hubungan mengetahui, dalam
bentuk pengetahuan tersebut adalah hubungan swaobjek tanpa campur tangan
koneksi dengan objek eksternal.
Selanjutnya Iluminasi oleh Yazdi disebut
sebagai ilmu hudhuri yaitu pengetahuan dengan kehadiran karena ia
ditandai oleh keadaan neotic dan memiliki objek imanen yang
menjadikannya pengetahuan swaobjek. Ilmu
hudhuri tidak memiliki objek diluar dirinya, tetapi objek itu sendiri
ada adalah objek subjektif yang ada pada dirinya. Oleh sebagian sufi, iluminasi
itu adalah pengetahuan diri tentang diri yang berasal dari penyinaran dan
anugerah Tuhan yang digambarkan dengan berbagai ungkapan dan keadaan. Ada yang
menyebutkannya dengan terbukanya hijab antara dirinya dengan Tuhan, sehingga
pengatahuan dan rahasianya dapat diketahui. Ada yang mengungkapkan dengan rasa
cinta yang sangat dalam sehingga antara dia dan Tuhan tidak ada rahasia lagi.
Pengetahuan Tuhan adalah pengetahuannya. Dan ada yang menyatakan dengan
kesatuan kesadaran (ittihᾶd/hulûl).
*Terdapat 2 bentuk dasar dalam konstruksi teori (bagunan
teori) antara lain;*
Metode deduktif,dan metode induktif
1.
Konstruksi teori
deduktif
Penekanan
dalam jenis ini adalah terletak pada membangun sistem konstruk dan aturan
relasional yang secara konseptual dan logis konsisten tapi verifikasi empiris
yang terbuka untuk dipertanyakan. Penemu jenis teori bekerja dari atas ke
bawah,membangun sebuah teori yang
tampaknya logis dengan basis apriori dan kemudian menguji kebenaran dari teori
ini dengan melakukan percobaan yang ditentukan oleh teori.
Contoh
paling jelas seperti teori dalam psikologi adalah teori pembelajaran hipotetiko
deduktif oleh hull. Dalam teori ini seperangkat postulat atau asumsi-asumsi
dasar dirumuskan terlebih dahulu dengan memperhitungkan faktor pengetahuan
tertentu,tetapi secara esensial hasil dari menebak informasi. Dari
postulat-postulat ini,hipotesis (atau teorema) kemudian diuji dan salah satu
teori yang terbukti benar dipertahankan. Ini adalahka rakteristik dari teori
deduktif pada umumnya.
2.
Konstruksi teori
induktif
Pada jenis
konstruksi teori ini, teori merupakan ringkasan pernyataan-pernyataan atau
generalisasi dari fakta-fakta empiris. Para penganut teori ini bekerja bawah
keatas, menyusun sistem (atau teori kecil) yang sudah diverifikasi dengan
replikasi hasil penelitian tertentu, kemudian memikirkan sistem tingkat tinggi
yang menggeneralisir seluruh teori miniature/kecil, dan akhirnya merumuskan
teori yang dapat menjelaskan semua pernyataan dalam skema. Keuntungan dari
pendekatan seperti itu adalah bahwa para penganut ini tidak pernah sangat jauh
dari pernyataan yang ‘kebenaran’ nya diverifikasi dengan baik. Dengan cara ini
ia cenderung untuk tersesat dalam menyusun dalil-dalil teoretesnya. Masalah
dalam metode tersebut adalah menyebabkan proliferasi teori yang sangat
rendah-tingkat,kebanyakannya tidak unik dan tumpang tindih dalam fungsinya.
Serta tidak efisien.
Praktek saat ini
Seperti
disebutkan sebelumnya,kedua metode konstruksi teori tersebut menunjukkan
ekstrem. Beberapa penganut teori akanmenunjukkan preferensi untuk satu jenis
dari yang lain, meskipun setiap penganut teori akan menggunakan strategi yang
mengandungunsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut. Pertannyaannya adalah bukan apakah orang itu dikatakan lebih baik dari yang lain
melainkan apakah seseorang lebih produktif atau efisien pada waktu tertentu
dalam sejarah ilmu pengetahuan/sains.
Pilihan
antara metode deduktif dan metode induktif tergantung pada keyakinan dari
penganut teori dan pengetahuan dalam bidang sains. Jika seseorang dapat
merasakan terdapat beberapa fakta-fakta dalam psikologi dan bahwa ia memiliki
pemahaman yang cukup baik tentang proses psikologi dasar,maka penggunaan metode
deduktif dibenarkan. Jika, kurang memahami tentang nilai ilmiah dan data
psikologis saat ini, menggunakan pendekatan induktif lebih baik.
Fungsi telaah konstruksi teori
fungsi dari telaah konstruksi teori antara lain :
1.
Sebagai
pedoman,bagan sistemanisasi,atau system acuan.
2.
Memberikan suatu
skema atau rencana sementara mengenai medan yang semula belum dipetakan.
3.
Menunjukkan atau
menyarankan kearah-arah penyelidikan lebih lanjut.
4.
Sebagai
pengembangan teori vs pengumpulan fakta.
5.
Untuk memberitahu
para ilmuwan tempat untuk mencari jawaban atas pertanyaan.
6.
Dapat digunakan
sebagai untuk memprediksi.
7.
Untuk memberi
penjelasan peristiwa atau faktor-faktor yang tidak diketahui/dipahami.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pembahasan di atas
maka pemakalah mengemukakan kesimpulan –kesimpulan sebagai berikut:
Telaah
konstruksi teori adalah
seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang disusun secara sistematis untuk
menjelaskan dan meramalkan fenomena. Suatu teori akan mengalami perkembangan
apabila teori tersebut sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk
mengatasi masalah.
Penerimaan
suatu teori dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki
kebenaran mutlak.Teori yang telah mapan dan digunakan oleh mayoritas ilmuwan
dalam komunitas ilmiah dalam penelitian selanjutnya disebut sebagai paradigma.
Paradigma
dibangun oleh para ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya atas berbagai konsep,
asumsi-asumsi teoritis umum dalam tatanan tertentu, menyederhanakan yang
kompleks yang dapat diterima umum.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar,
Amsal, Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat:
Lolos Wacana Ilmu, 1997)
Drajat,
Amroeni, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta:
Erlangga, 2006)
Komaruddin,
Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I,
(Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002)
Muhadjir,
H. Noeng, Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post
Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)
Soetrisno
dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian,
Ed.I.(Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007)
Wattimena,
Reza A.A , Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, ( Jakarta: PT.
Grasindo, 2008)
Subscribe to:
Posts (Atom)